Home » » PERBEDAAN TEORI KONFLIK DAN TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL

PERBEDAAN TEORI KONFLIK DAN TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL

Written By Unknown on Selasa, 12 Juni 2012 | Selasa, Juni 12, 2012

Teori Konflik dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori ini adalah Ralp Dahrendorf. Proposisi yang dikemukakan oleh penganut Teori Konfik bertentangan dengan proposisi yang dikemukakan oleh penganut Teori Fungsionalisme Struktural. Perbedaan proposisi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :

Menurut teori Fungsionalisme Struktural :
1. Masyarakat berada pada kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi
    keseimbangan
2. Setiap elemen atau setiap institusi  memberikan dukungan terhadap stabilitas.
3. Anggota masyarakat terikat secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai dan
     moralitas   umum.
4. Konsep-konsep utamanya adalah fungsi, disfungsi, fungsi latent, fungsi manifest, dan
    keseimbangan (equilibrium)

Menurut Teori Konflik :
1. Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh
    pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.
2. Setiap elemen memberikan sumbangan terhadap desintegrasi social.
3. Keteraturan dalam masyarakat hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau
    pemaksaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.
4. Konsep-konsep sentral Teori Konflik adalah wewenang dan posisi, keduanya
    merupakan  fakta sosial.  Distribusi kekuasaan dan wewenang  secara tidak merata
    tanpa terkecuali  menjadi faktor yang menentukan konflik sosial secara sistematis.
    Perbedaan wewenang adalah suatu tanda dari adanya berbagai posisi dalam
    masyarakat.

Menurut Dahrendorf  kekuasaan dan wewenang senantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan bawah dalam setiap struktur. Karena wewenang itu adalah sah, maka setiap individu yang tidak tunduk terhadap wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan demikian masyarakat disebut sebagai Dahrendorf sebagai persekutuan yang terkoordinasi secara paksa (imferatively coordinated associations).  

Oleh karena kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara penguasa dengan yang dikuasai, maka dalam masyarakat selalu terdapat dua golongan yang saling bertentangan. Pertentangan itu terjadi dalam situasi di mana golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo sedangkan golonganyang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan. Pertentangan kepentingan ini selalu ada di setiap waktu dan dalam setiap struktur.

Menurut Dahrendorf terdapat mata rantai antara konflik dan perubahan sosial. Konflik menurutnya memimpin ke arah perubahan dan pembangunan. Dalam situasi konflik, golongan yang terlibat melakukan tindakan-tindakan untuk mengadakan perubahan dalam struktur sosial. Kalau konflik itu terjadi secara hebat maka perubahan yang timbul akan bersifat radikal. Begitu pula kalau konflik itu disertai oleh penggunaan kekerasan maka perubahan struktural akan efektif.

Pierre van Berghe (1963) mengemukakan empat fungsi konflik;
1.  Sebagai alat untuk memelihara solidaritas.
2.  Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain.
3.  Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.
4.  Fungsi komunikasi.Sebelum konflik, kelompok tertentu mungkin tidak mengetahuai
     posisi lawan. Tapi dengan adanya konflik, posisi dan batas antara kelompok menjadi  
     lebih jelas. Individu dan kelompok tahu secara pasti di mana mereka berada dan
     karena  itu dapat mengambil keputusan lebih baik untuk bertindak dengan lebih
     tepat.

Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat disamping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandang dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan. Seperti membenarkan Hobbes yang mengatakan : bellum omnium contra omnes (perang antara semua melawan semua).

Share this article :

Kunjungan

Update

 
Copyright © 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | Arif Sobarudin