Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiaannya kepada hubungan antara individu dengan lingkungannya, dimana lingkungan itu terdiri atas : a) bermacam-macam obyek social dan b) bermacam-macam obyek non sosial. Prinsip yang menguasai antar hubungan individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial. Pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor-faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkahlaku.
Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikan ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat mekanik. Beda dengan paradigma definisi sosial yang menganggap aktor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam proses interaksinya. Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma Perilaku Sosial, yakni Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange.
Paradigma ini lebih banyak menggunakan metode eksprimen dalam penelitiannya. Keutamaan metode eksprimen ini adalah memberikan kemungkinan terhadap penelitian untuk mengontrol dengan ketat obyek dan kondisi di sekitarnya. Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian dan pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkahlaku aktor yang ditimbulkan dengan sengaja di dalam eksprimen. Walaupun eksprimen merupakan suatu metode penelitian langsung yang agak baik terhadap tingkahlaku aktor, namun peneliti masih dituntut untuk mengamati perilaku lanjut aktor yang sedang diteliti.
1. Teori Behavioral Sociology
Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku aktor. Akibat tingkah laku diperlakukan sebagai variabel independen. Ini berarti teori ini berusaha menerangkan tingkah laku yang terjadi melalui akibat-akibat yang meengikutinya. Konsep dasar teori ini yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward). Tak ada sesuatu yang melekat dalam objek yang dapat menimbulkan ganjaran. Sesuatu ganjaran yang tak membawa pengaruh terhadap aktor tidak akan diulang. Contohnya tentang makanan sebagai ganjaran yang umum dalam masyarakat. Tetapi bila sedang tidak lapar maka makan tidak akan diulang. Bila si aktor telah kehabisan makanan, maka ia akan lapar dan makanan akan berfungsi sebagai pemaksa.
2. Teori Exchange
Tokoh utama teori ini adalah George Homan, teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, yang menyerang ide Durkheim secara langsung dari tiga jurusan, yakni :
a) pandangan tentang emergence. Selama berlangsung interaksi timbul fenomena baru
yang tidak perlu proposisi baru pula untuk menerangkan sifat fenomena baru yang
timbul tersebut.
b) pandangan tentang psikologi. Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri lepas dari
pengaruh psikologi.
c. Metode penjelasan Durkheim. Fakta sosial tertentu selalu menjadi penyebab
fakta sosial yang lain yang perlu dijelaskan melalui pendekatan perilaku
(behavioral), yang bersifat psikologi.
Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis besarnya dapat dikembalikan pada 5 proposisi George Homan yaitu :
1. Jika tingkahlaku tingkahlaku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus
dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkahlaku atau
kejadian yang mempunyai hubungan dan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi
atau dilakukan.
2. Menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima. Makin sering dalam peristiwa tertentu
tingkahlaku seseorang memberikan ganjaran terhadap tingkahlaku orang lain, makin
sering pula orang lain itu mengulang tingkahlakunya itu.
3. Memberikan arti atau nilai pada tingkahlaku yang di arahkan oleh orang lain terhadap
aktor. Makin bernilai bagi seseorang sesuatu tingkahlaku orang lain yang ditujukan
kepadanya makin besar kemungkinan atau makin sering ia akan mengulangi
tingkahlakunya itu.
4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin
berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
5. Makin dirugikan seseorang dalam dalam hubungannya dengan orang lain, makin
besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi.